Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengunjungi SMAN 1 Purwakarta untuk memantau langsung kondisi sembilan siswa yang sempat viral karena melakukan aksi perundungan atau mengolok-olok gurunya.
Alih-alih dijatuhi sanksi skorsing atau dikembalikan ke orangtua, para siswa tersebut kini menjalani hukuman berupa kerja sosial dan pembinaan akhlak di lingkungan sekolah.
Langkah ini diambil pihak sekolah mengikuti saran dari Dedi Mulyadi guna memberikan efek jera yang edukatif bagi para siswa ledek guru tersebut.
Dalam kunjungannya pada Selasa (21/4/2026), Dedi Mulyadi tampak semringah melihat perubahan aktivitas para siswa pelaku perundungan tersebut.
Saat didatangi, sembilan siswa yang terdiri dari tiga laki-laki dan enam perempuan itu sedang menjalani proses refleksi diri melalui kegiatan keagamaan.
"Ini anak-anaknya mereka lagi refleksi. Jadi dari sembilan orang itu ada non-muslim satu orang, delapannya muslim," ungkap salah seorang guru Bimbingan Konseling (BK) kepada Dedi Mulyadi.
Selama tiga bulan ke depan, para siswa diwajibkan untuk membersihkan lingkungan sekolah setiap hari. Selain itu, mereka juga rutin melakukan tadarus Al Quran.
"Tadi mereka datang pagi bersih-bersih dulu, setelah bersih-bersih mereka ngaji bareng temannya, mereka tadarus satu hari satu juz dibagi bersembilan. Yang satu Kristen, dia bawa Al Kitab sendiri," tambah guru BK tersebut.
Berasal dari keluarga mampu dan harmonis
Dedi Mulyadi juga mendalami latar belakang keluarga para siswa yang masuk melalui jalur zonasi, prestasi, dan afirmasi tersebut.
Berdasarkan penjelasan guru BK, para siswa pelaku perundungan ini ternyata berasal dari latar belakang keluarga yang tergolong mapan dan harmonis.
"Enggak ada pak, sebagian besar orangtuanya mampu, orangtuanya juga menyesali perbuatan anaknya," ujar guru BK saat menjawab pertanyaan Dedi mengenai potensi adanya masalah ekonomi atau psikologi keluarga.
Pihak sekolah mengonfirmasi bahwa kesembilan siswa tersebut sempat mengalami guncangan mental setelah aksi mereka viral di media sosial, namun kini kondisi mereka mulai stabil.
"Awalnya syok sekali kayak terpuruk kembali. Sekarang sudah kuat, hadapi kembali," jelas guru BK.
Dukungan orangtua dan rencana barak militer
Menariknya, para orangtua siswa merespons positif hukuman kerja sosial ini. Mereka menilai sanksi tersebut lebih bermanfaat dibandingkan skorsing yang justru membuat anak berdiam diri di rumah.
"Sama sekali tidak (komplain). (Orangtua) sangat bersyukur dengan aturan yang ada di sini," kata guru BK meyakinkan Dedi Mulyadi.










