Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk mencabut sanksi minyak terhadap Rusia menyusul meroketnya harga minyak dunia baru-baru ini.
Harga minyak dunia meroket ke level tertinggi sejak Juli 2022 usai menyentuh US$119 per barel pada Senin (9/3). Lonjakan ini buntut memanasnya perang AS-Israel terhadap Iran di Timur Tengah.
Tiga sumber mengatakan kepada Reuters bahwa salah satu opsi yang dipikirkan Trump yakni mengizinkan negara-negara tertentu membeli minyak Rusia tanpa harus khawatir akan hukuman AS.
Pertimbangan ini mencerminkan kekhawatiran Gedung Putih bahwa lonjakan harga minyak LCOc1 akan merugikan bisnis dan konsumen AS menjelang pemilihan umum (pemilu) paruh waktu pada November mendatang. Pemilu ini menentukan nasib Partai Republik di Kongres.
Dalam pernyataan kepada wartawan di Florida pada Senin (9/3), Trump sempat mengatakan pemerintahannya bakal mencabut sanksi terhadap sejumlah negara sebagai upaya menstabilkan pasar minyak. Namun, Trump tidak merinci negara mana saja yang dimaksud.
"Kami memberlakukan sanksi terhadap beberapa negara. Kami akan mencabut sanksi tersebut sampai Selat [Hormuz] dibuka," kata Trump.
Pelonggaran sanksi terhadap Rusia dapat meningkatkan pasokan minyak dunia saat terjadi gangguan besar dalam distribusi minyak di Timur Tengah. Akan tetapi, hal ini juga bisa mempersulit upaya AS mengurangi pendapatan Rusia untuk perangnya di Ukraina.
Dalam konferensi pers, Trump sendiri sempat mengaku telah melakukan "percakapan yang sangat baik" dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai perang di Ukraina.
Para analis dan pejabat industri sejak awal telah mewanti-wanti bahwa Gedung Putih cuma punya sedikit instrumen untuk mengatasi lonjakan harga minyak dunia buntut perangnya dengan Iran.
Sebetulnya, persoalan ini bisa diatasi jika AS mampu memulihkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Masalahnya, rencana Gedung Putih mengawal kapal-kapal di Selat Hormuz, yang telah disampaikan sebelumnya, gagal menggenjot arus kapal secara signifikan.
Selat Hormuz adalah jalur air sempit yang terletak di antara Iran dan Oman yang bertanggung jawab atas seperlima pasokan minyak dunia. Iran telah menutup selat ini sejak AS-Israel meluncurkan serangan pada 28 Februari lalu.
"Masalahnya adalah pilihan yang tersedia berkisar dari yang marginal, simbolis, hingga sangat tidak bijaksana," kata salah satu sumber yang terlibat dengan Gedung Putih dalam upaya tersebut.
Lebih lanjut, para sumber juga mengatakan opsi lain yang sedang dipertimbangkan Trump meliputi upaya mengintervensi pasar berjangka minyak (oil futures market), menghapus beberapa pajak federal, dan mencabut syarat Undang-Undang Jones, aturan yang mewajibkan pengangkutan bahan bakar domestik hanya menggunakan kapal berbendera AS.
AS juga menggodok opsi untuk melepas cadangan minyak mentah G7. Para pejabat Washington secara terpisah sudah berdiskusi dengan negara-negara anggota G7 mengenai ini.
Menteri Energi ASS Chris Wright pada Senin (9/3) mengonfirmasi bahwa AS sedang mempertimbangkan untuk mengoordinasikan penjualan minyak dari cadangan strategis G7. Kendati demikian, hingga kini belum ada keputusan bulat.
Pekan lalu, Gedung Putih meminta lembaga-lembaga federal menyusun proposal yang bisa membantu mengurangi tekanan pada harga minyak mentah dan bensin. Menurut sumber, pembahasan tersebut melibatkan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles dan penasihat utama Stephen Miller.










